2019. Waktu itu sudah dua tahun semenjak kedai kopi kecil di dalam komplek samping kantor KUA itu memulai ceritanya sendiri. Kedai itu, mengalami fase alami dari sebuah siklus, naik dan turun. Seperti nasib peradaban kuno sang Koresh Agung yang bentang kekuasaannya dimulai dari Semenanjung Balkan di Barat sampai Lembah Indus, di arah terbitnya Matahari.
 |
| foto: koleksi pribadi Syam |
Atau seperti runtuhnya peradaban Romawi yang dibangun dua anak muda, Remus dan Romulus, anak dari Rhea Silva dengan titisan darah seorang prajurit Troya. Atau seperti runtuhnya kedigdayaan Ottoman, Turki yang dibangun para pengembara berkuda, Erthugrul. Menjelajah Kurdistan ke Anatolia, hingga anak cucuknya pun merasakan memimpin dunia.
Perasaan yang sama selalu muncul. Meski kedai itu sudah tak pernah lagi dibuka sebagai ceritanya waktu itu. Sudah tak ada lagi suara deru gerigi besi yang beradu menggilas biji-biji kopi sehingga serupa serbuk. Tak ada lagi aroma manis, dari kepulan asap sehabis kopi itu rampung disangrai dalam rantang yang disulap seumpama mesin. Diputar dengan tangan, lamat-lamat diamati hingga berderetak lah biji kopi itu.
Kedai kopi kecil itu. Boleh saja telah padam, Tidak pada semangat dan tujuannya sedari awal. Seperti penghancuran pada sejarah ideologi-ideologi manusia. Dia tidak hancur semuanya. Namun menjelma menjadi bentuk-bentuk yang lain.
Hingga barangkali, suatu hari nanti jika Sang Kuasa merestui, dia akan kembali dengan bentuk yang tiada terpikirkan, melebihi semua mimpi yang teramini.
Sementara, kini. Ia menjelma sebuah buku. Lembaran-lembaran kertas yang dibubuhi tinta adalah hanya sebuah kertas. Ini berbeda. Bukan seperti itu. Ini adalah lembaran-lembaran kertas, yang di atasnya ada berbagai rasa yang dituangkan, meski dalam diam dan kenang. Seperti ideologi-ideologi, ia bisa menjelma menjadi bentuk-bentuk lain yang berjuang.
Buku Biji-Biji Kopi yang Bercerita di Bumi Borneo ini sudah ditulis dalam rentang waktu 2019-2022. Lahir dari betapa susahnya penulis, menemukan, literatur dan buku yang bisa menjelaskan dengan terang-benderang, mengapa kopi bisa tumbuh di Kalimantan, padahal ia adalah tanaman yang berasal dari Yaman yang juga konon dari Habasyah, Afrika?
Sulit. Benar-benar sulit menemukan literatur semacam itu, setidaknya hingga tahun 2021. Sehingga dengan membulatkan tekad, penulis akhirnya dengan segala kekurangan yang ada. Mencoba mengumpulkan kepingan puzzle. Tulisan-tulisan, pendapat, hasil wawancara dan mengadakan kunjungan demi kunjungan untuk menarik sebuah kesimpulan. Dari mana dan bagaimana kopi-kopi di Banua bermula. Kini buku itu sudah terbit, di hadapan para pembaca dan mereka yang merindukan kopi Kalsel menjelma menjadi kopi terpandang hingga keluar Nusantara.