#4 Serial Kopi Prabayaksa di Kampung Buku: Nasi Berkuah Kopi

MEJA sudah tertata. Air panas, alat seduh, teko kaca dan gelas telah disiapkan. Buku-buku kopi, biji kopi, dan perbincangan taut-bertaut berpendar pada kedai kopi di salah satu blok di Kampung Buku ini. Para tamu menyebutnya toko kopi Prabayaksa. Tempat dimana wanginya aroma kopi, lembaran-lembaran buku, dan pembicaraan-pembicaraan anak manusia saling bertemu.

***
Aku mulai memanaskan air di dalam teko sebelum tamu-tamu itu berdatangan. Hanya ada lima kursi di dalam kedai ini. Buku-buku bersusun di dindingnya. Lukisan yang dibuat dari bubuk kopi tertata pula di salah satu sisi. Biji-biji kopi lokal sudah disiapkan, tertutup rapat dalam toples kaca tertembus cahaya. 

Hanya ada kopi lokal di sini. Tidak akan kau temukan kopi dari Ethiophia, Kolombia dan Kenya. Tak ada kotak pendingin udara yang meniup-niupkan hawa dingin, tak ada musik yang berdentum-dentum, tak ada jaringan internet gratis. Tempat ini murni kedai kopi, bukan kafe.

***

Seperti yang sering ia lakukan jika ke toko kopi Prabayaksa. Membawa nasi di dalam sebuah rantang besi kecil. Rantang itu bertumpuk dua, berwarna putih dengan gambar bunga dandelione di sisi-sisinya. Pada wadah pertama yang berada paling dasar, ia meletakkan nasi seukuran tiga wancuh. 
ilustrasi: Melissa 
Lelaki itu adalah Pak Kholis. Siang itu, saat jarum panjang pada jam tangan analogku mengarah ke angka dua, Pak Kholis sudah datang ke kedai, lengkap dengan rantangnya itu.

Meski sudah berumur paruh baya, ia masih kelihatan muda dan gesit. Ia adalah pemilik toko perajin meubel kayu. Barangkali sudah ribuan macam bentuk perkakas meja, kursi, lemari dan hiasan yang sudah ia buat dengan tangannya itu. 

Diletakkannya rantang berisi nasi ke atas meja, lalu dengan segera menuangkan kopi hitam robusta Pengaron manis dengan campuran gula ke atas nasi. Pak Kholis bukanlah penduduk asli kota ini, ia berasal dari sebuah desa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kebiasaan menyantap nasi yang disiram dengan kopi hitam manis sudah ia lakukan semenjak kecil. 

"Setiap hari kau menyantap ini? Nikmat sekali kau melahapnya Pak Kholis," ujarku sambil mengarahkan pandangan ke rantang nasi yang sudah basah dengan kopi. Campuran warna hitam dan putih sepintas mirip dengan rawon. Tapi bukan. Ini betul-betul bukan rawon meski warnanya nyaris serupa. Itu adalah: nasi kuah kopi manis. Sebuah hidangan yang benar-benar bukan menu arus utama di papan-panan menu warung makan, apalagi restoran.

"Tidak juga, aku tidak menyantapnya tiap hari, hanya saat di kedai ini saja," balas Pak Kholis sambil menyendok kuah kopi dari dalam rantang yang sudah bercampur dengan nasi dan melahapnya setengah terburu-buru. 

Terkadang ada pula tamu lain di kedai yang merasa heran dengan cara makan macam itu. Bagi tamu-tamu yang lain, kopi dan nasi adalah dua hal yang kurang akrab jika digabung dalam sebuah wadah, kemudian dijadikan santapan. Namun bagi Pak Kholis, makan dengan cara seperti itu adalah cara dirinya menikmati siang.

"Makan dengan cara seperti ini membuatu bersemangat," ujarnya, menatap kepadaku.

***

Cara makan Pak Kholis sempat pula menjadi topik perbincangan yang menghangat di antara para tamu yang datang di toko. Ada yang setuju, namun ada pula yang menolaknya. Menurut yang setuju, itu sah-sah saja. Bahkan sebagian sampai ikut mencoba, bagaimana rasanya, nasi dicampur kopi. Ada yang menerima, ada pula yang menolak mentah-mentah konsep makan yang dianggap tak biasa ini setelah mencicip sendiri.

Namun diantara pertempuran pendapat-pendapat itu, Pak Kholis sama sekali tak menggubris. Menurutnya, anak-anak muda terkadang sering membahas dan memperdebatkan sesuatu yang bukan urusan mereka. "Begitulah anak muda. Kebanyakan mereka merasa paling benar dan paling hebat," cetusnya.

***

Lukisan karya Myra Abelson.

Pak Kholis tiba ke tokonya menjelang adzan Ashar hampir menggema di corong-corong pelantang suara di menara-menara langgar. Ia merapikan letak kursi dan meja yang masih belum dipelitur. Sesekali ia menggosok bagian kursi kayu yang masih terasa kasar dengan amplas. Percikan serbuk kayu tampak beterbangan, karena ampas dan permukaan kursi kayu yang beradu. Aroma kayu sedikit terasa, diselingi aroma pelitur dari beberapa lemari yang akan diambil pemesan besok hari. Ia teringat dengan ayahnya. Dulu sewaktu kecil, ia sering membantu sang ayah bekerja serabutan, membangun rumah, membetulkan lemari kayu dan apa saja.

"Nak ambilkan abah cat pelitur di belakang meja dekat pintu belakang toko," kata Pak Kholis kepada anak perempuannya, Holidah yang sedari tadi sedang asyik mencatat pesanan dan uang yang masuk dari penjualan meubel di toko.

"Ini Bah, cat peliturnya. Abah sudah makan siang?" Holidah melanjutkan pertanyaan, "atau mau kubuatkan kopi Bah?"

"Tidak usah Holidah, Abah sudah kenyang, baru saja dari kedai kopi langganan Abah di Kampung Buku," katanya sambil membuka kaleng cat pelitur.

"Sepertinya Abah senang sekali ke kedai kopi itu. Apakah di sana kopinya memang seenak itu Bah? Kau belum pernah mengajakku ke sana."

Pak Kholis terdiam, lalu meletakkan kaleng cat pelitur ke atas lantai. Dibukanya topi berbahan jeans kasar dari atas kepalanya. Ia lalu duduk memandangi lalu-lalang para pengendara yang melintas di jalan depan tokonya itu.

"Mengapa terdiam Bah?"

"Kopi di kedai itu mengingatkan Abah saat masih kecil dulu di desa. Abah biasa membantu kakek bekerja sebagai tukang."

Pak kholis kembali melanjutkan ceritanya, "biasanya setelah selesai membantu kakekmu, kami bersama-sama makan di lampau yang ada di pinggir sawah. Waktu itu Abah masih berumur sepuluh tahun. Sudah jadi kebiasaan di desa, menyantap nasi dengan kuah kopi manis. Menu satu itu sangat berkesan di hati Abah. Kakekmu biasanya menyiapkan nasi di dalam rantang dan kopi di dalam cirat untuk Abah."

"Bukankah Abah bisa memintaku membuatkannya saja, tak perlu ke kedai itu nyaris setiap hari kan Bah," tanya Holidah, sambil terus merapikan catatan pembukuan toko Abahnya. Sesekali ia membetulkan jilbabnya yang agak longgar.

"Tidak akan sama Holidah. Aku hanya ingin mengenang masa kecil Abah di desa. Siang hari, setelah Abah mulai lelah menyelesaikan pesanan lemari dan meja-meja ini, Abah ingin merasakan suasana seperti dulu selepas membantu kakekmu. Maka Abah bawa rantang berisi nasi ke kedai itu."

"Bagi Abah, kedai di Kampung Buku itu seperti lampau di pinggir sawah waktu Abah masih kecil di desa. Suasana kota seperti di Banjarmasin ini agak berisik dan Abah perlu mengenang masa kecil itu dengan menyantap nasi dengan kuah kopi manis seperti dulu selepas lelah bekerja. Meski tidak sama seperti di desa."

Holidah berhenti mencatat, pandangannya mengarah kepada Pak Kholis. Sambil membetulkan jilbab ia kemudian mendekati abahnya itu dan berkata, "kalau begitu ajaklah aku sesekali ke sana. Siapa tau Holidah bisa ikut merasakan kenangan Abah semasa kecil," ucapnya sedikit manja.

"Iya, sepertinya kau sesekali perlu ikut ke sana. Meski kutau kau tak pernah suka menyantap kopi dengan kuah kopi manis," ujar Pak Kholis tertawa dan mengusap kepala anak perempuannya.

Selama ini anak perempuan Pak Kholis itu tak pernah sekalipun bertemu dengan kakeknya. Hanya dari kisah-kisah abahnyalah ia tau mengenai kakeknya yang berada di Malaysia.

***

Pak Kholis sebenarnya tidak pernah benar-benar suka pada nasi yang diberi kuah kopi manis. Waktu kecil ia bahkan sampai termuntah-muntah saat ayahnya memberikan nasi kopi manis selepas membantu bekerja. 

"Belum bisa dikatakan lelaki jantan kalaulah belum bisa menyantap nasi berkuah kopi manis Nak."

Sampai suatu ketika, ayahnya itu tiada pernah lagi kembali ke desanya. Setelah merantau ke Malaysia, ayahnya tidak pernah kembali menemui dirinya dan ibunya. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan ingin mencari pekerjaan lebih baik di negeri orang. Memang saat itu kondisi keluarga Pak Kholis sungguh sulit. Ayahnya terpaksa menyantap nasi berkuah kopi, karena tak memiliki uang untuk membeli sekadar ikan atau lauk untuk disantap bersama keluarga. 

Meski sang ayah meninggalkan dirinya. Pak Kholis menyimpan rindu diantara kemarahan-kemarahan pada ayahnya. Sewaktu muda ia membenci kopi. Tak pernah mau meminum kopi karena ketika melihat kopi ia teringat ayahnya yang pergi meninggalkan ia dan ibunya begitu saja. 

Kebenciannya semakin membuncah, ketika tahu, ayahnya sudah menikah lagi dengan seorang kaya di negeri jiran. Setiap Hari Raya Idul Fitri, ayahnya mengirimkan paket baju dan makanan dari Malaysia serta surat. Tak pernah ia mau sentuh paket kiriman itu karena marah di dalam dada. Namun diantara beberapa surat, hanya ada satu yang paling ia ingat. Surat bertuliskan permintaan maaf ayahnya kepada ia dan ibunya. Di akhir surat tertulis, "Maafkan Abah. Aku malu kembali ke desa. Aku tak tahan menemuimu dan ibumu. Tak tahan jika harus berhadapan dengan kemarahanmu. Tapi Abah masih sering menyantap nasi berkuah kopi manis di sini. Salam sayang, dari Abah." 

Hingga kini, Pak Kholis belum pernah lagi bertemu ayahnya itu. Namun belakangan ia jadi lebih sering menyantap nasi berkuah kopi manis di toko kopi Prabayaksa.

***

Cahaya matahari menembus relung awan-awan yang menggumpal tipis. Siang itu terik dan lembab. Banyak tamu di kedai memesan es kopi ketimbang kopi hangat. Panasnya cuaca membuat dahaga semakin manja, ia menuntut untuk sesuatu yang terasa menyegarkan. 

"Tak sendiri hari ini Pak Kholis?" sapaku.

"Ah iya, ini anak pertamaku, bulan depan ia akan lulus dari Madrasah Aliyah," ujarnya. 

"Kopi manis seperti biasa ya? Untuk disiram di atas nasi?"

"Kali ini tidak usah pakai gula."

"Oh begitu, baik. Akan kubuatkan. Kalau kamu, apa mau kopi juga?" aku bertanya kepada anak perempuan Pak Kholis yang pandangannya masih menjelajah seisi kedai. Ini adalah kali pertamanya datang ke sini.

"Sama seperti abahku saja," jawabnya, sedikit tersenyum. Kulihat wajahnya memang mirip dengan Pak Kholis, dibalut jilbab berwarna kuning terang. Hidungnya mancung seperti abahnya.

Aku mengangguk dan mulai menggiling biji kopi robusta Pengaron, kemudian menyeduhnya dengan saringan kertas khusus kopi di alat seduh. 

"Dulu kakekmu biasa memakan nasi dengan kuah kopi tanpa gula. Abah tak tahan, maka biasanya kakekmu menambahkan gula ke kopi sebelum disiram ke nasi abah."

"Kalau begitu aku mau mencobanya Bah. Siapa tau kali ini aku suka dengan nasi dengan kuah kopi tanpa gula. Kalau pakai gula aku tak tahan, rasanya tak cocok di lidahku."

Holidah membuka rantang yang sudah ia siapkan dari toko bersama abahnya. Kali ini kedua wadah rantang itu berisi nasi.

***

Mereka berdua terlihat lahap menyantap nasi berkuah kopi. Jujur, aku jadi tertarik ingin mencobanya setelah ini. Cara mereka makan dengan lahap membuatku jadi penasaran mencicipinya.

"Apakah kakek sampai sekarang masih suka menyantap seperti ini Bah?"

Pak Kholis terdiam, tak menjawab. Lalu terus melahap nasinya. Kulihat matanya perlahan mulai membasah. 

***

Oleh: Syam Indra Pratama
Edisi keempat dari serial Kopi Prabayaksa di Kampung Buku
terinspirasi dari serial televisi Midnight Diner yang tayang di Netflix.

Catatan:

1. Wancuh: Sendok nasi.