#1 Serial Kopi Prabayaksa di Kampung Buku: Bari Al Taluktirami

MEJA sudah tertata. Air panas, alat seduh, teko kaca dan gelas telah disiapkan. Buku-buku kopi, biji kopi, dan perbincangan taut-bertaut berpendar pada kedai kopi di salah satu blok di Kampung Buku ini. Para tamu menyebutnya toko kopi Prabayaksa. Tempat dimana wanginya aroma kopi, lembaran-lembaran buku, dan pembicaraan-pembicaraan anak manusia saling bertemu. 

***

Aku mulai memanaskan air di dalam teko sebelum tamu-tamu itu berdatangan. Hanya ada lima kursi di dalam kedai ini. Buku-buku bersusun di dindingnya. Lukisan yang dibuat dari bubuk kopi tertata pula di salah satu sisi. Biji-biji kopi lokal sudah disiapkan, tertutup rapat dalam toples kaca tertembus cahaya. 

Hanya ada kopi lokal di sini. Tidak akan kau temukan kopi dari Ethiophia, Kolombia dan Kenya. Tak ada kotak pendingin udara yang meniup-niupkan hawa dingin, tak ada musik yang berdentum-dentum, tak ada jaringan internet gratis. Tempat ini murni kedai kopi, bukan kafe.

Suara mesin giling yang menggilas biji-biji kopi berderesit membuka pagi yang hangat di pertengahan Februari ini. Wanginya menyeruak, menerbitkan kembali harapan-harapan. Kusiram biji kopi yang telah menjadi serbuk itu dengan air panas dari dalam teko. Kusesap aromanya sambil memejamkan mata. Kuingat ada kerja keras para penanam dalam kopi-kopi ini, yang kadang terlupakan, lamat-lamat menjadi terabaikan. Kuseruput dan kurasakan nikmatnya, sebelum bunyi dari luar kedai sedikit mengejutkanku.

***

"Assalammualaikum abangku! Seperti biasa abangku, kopi yang kemarin-kemarin juga," sapanya dari luar, dan langsung duduk di dalam kedai dengan wajah yang sama seperti pertama kali datang ke Prabayaksa.
ilustrasi lukisan: https://mymodernmet.com/
"Wa'alaikumussalam. Aku ada kopi liberika dari Bati-bati, Tanah Laut, mau mencoba?"

"Ah boleh juga itu. Buatkanlah bang untukku," balasnya sambil membuka ransel berwarna merah marun bermerek Eiger yang tampak sudah memudar namun masih sangat kokoh. 

Diambilnya laptop dan seperti biasa, ia akan mulai mengusap-usap kepala dengan dahi sedikit berkerut di depan laptopnya, sambil mencoba mengetik di papan ketik laptopnya itu. Kacamatanya yang tebal dibetul-betulkannya saat sesekali melorot. Ia adalah mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi negeri.

"Ini kopi liberika Bati-bati, kuseduh dengan gilingan kopi agak kasar dari biasanya, coba kau cicipi sendiri, ini kopi lokal yang istimewa."

"Ahh siaaap abang... Sebenarnya kopi apapun yang abang seduh, aku akan suka, hahahah...," katanya berkelakar.

"Mengerjakan skripsi lagi?"

Ia tak menjawab, hanya mengacungkan jempol. Sebenarnya sudah lama sekali skripsinya itu tiada pernah tuntas. Namun seperti yang diperbuatnya apabila datang ke kedai ini, tampak serius dengan skripsinya itu. 

Hanya ada suasana ketukan-ketukan papan ketik laptop dan gemuruh air mendidih dari teko yang dipanaskan. Aku tak mau mengganggunya. Sambil mengelap-ngelap gelas dan meja seduh, ia kubiarkan terlarut dalam layar laptopnya. Seolah telah masuk ke dunia lain.

***

"Kopi tubruk robusta Pengaron seperti biasa."

"Apa mau kutambahkan sedikit jahe, udara di luar agak dingin."

"Ah ide bagus itu, boleh-boleh," ujar Latif, ia seorang dosen.

Biasanya, saban Rabu pagi ia mampir ke toko kopi Prabayaksa ini, atau sekadar melihat-lihat buku di Kampung Buku. Ia tak tertarik dengan kopi saring. Lebih radikal dan konservatif. Selalu memesan kopi tubruk robusta Pengaron. Tentu saja: tanpa gula sebutir pun. Titik.

Latif adalah dosen yang nyentrik. Rambutnya gondrong terurai sebahu. Kadang ia simpul rambutnya itu, kadang tidak. Lebih sering bersandal ketimbang bersepatu mengkilat jika ke kedai. 

"Pusing pula aku dibuat salah satu mahasiswaku di kampus. Tak selesai-selesai skripsinya itu, merepotkan. Mahasiswa seperti itu bakal jadi calon sampah masyarakat nantinya," cetus Latif sambil mengendus kepulan uap tipis dari cangkir kopi tubruk Pengaron. Matanya menyipit saat mengatakan itu.

"Apa kau punya wadai yang bisa dilahap?" sambungnya.

"Oh, wadai untuk-untuk isi gula habang ini mungkin kau suka. Ambillah, tak perlu dibayar, tadi aku membelinya di warung dekat sini."

"Nah ini mantap betul. Pas sekali, aku lagi pingin mengunyah yang manis-manis, biar paitnya kehidupan bisa terkurangi. Oh iya kemarin aku sudah memeriksa apakah naskah novelku akan diterbitkan oleh penerbit nasional ternama itu, dan untuk kiriman yang kedua belas, kali ini, gagal lagi. Huh!"

"Mungkin kau hanya perlu merevisinya Latif. Kalau boleh kutebak, mahasiswa yang kau ceritakan tadi itu  juga berambut panjang sepertimu kan?"

"Bahahahahaha. Ahli nujum sekarang kau rupanya. Apa ini, dapat ilham dari mana kau bisa menebaknya seperti itu. Tepat sekali tebakanmu. Masalah dia itu sebenarnya sederhana saja, asalkan mau menyelesaikan sampai tuntas, bisa saja lulus. Meski skripsinya tidak terlalu bagus lah. Dia terlampau perfectionist aku kira."

"Aku hanya menebak saja. Silakan cicipi dulu wadai untuk-untuk itu, biar tak tambah pait kata-katamu."

Aku tertawa. Kelakuan dosen usia kepala tiga itu memang kadang membuatku geleng-geleng kepala. Sepertinya aku tahu, siapa mahasiswa yang membuat si gondrong ini pusing. Kupandangi cangkir-cangkir kopi, memasukkan air ke dalam teko dan merebusnya. 

***

"Dua bulan lagi aku bakal di drop out bang, kalaulah tak selesai skripsiku."

Sambil menyuguhkan segelas kopi susu panas robusta Pengaron. Aku duduk menyandar ke dinding dan membetulkan jam tangan analog di tangan kanan. Kuseruput kopi yang kuseduh sendiri kemudian menatap si Bari. Mahasiswa gondrong yang skripsinya tak pernah selesai dan hampir di ujung DO oleh kampusnya.

"Sebaiknya segera kau tuntaskan saja. Apa pula masalahmu sampai tak selesai-selesai," celetuk Anang, pengunjung reguler yang selalu memesan teh hangat tawar. 

Meski bertasmiyah sebagai kedai kopi, aku bisa saja menyuguhkan minuman lain. Kebetulan aku juga suka minum teh kadang-kadang, jadi sering ada teh di bawah meja seduh.

"Akan aku selesaikan, ini harus aku tuntaskan," kata Bari kepada Anang yang beringsut mengambil buku di dinding kedai. Membacanya, lalu mengisap dalam-dalam rokok kretek linting yang tembakaunya entah ia beli dari mana.

"Jadi kau sudah memutuskan untuk segera menyelesaikannya? Baguslah. Saranku, tak usah terlampau bagus, asalkan selesai saja. Agar lepas darimu jerat DO itu." Aku memecah keheningan sepersekian menit. 

"Pokoknya yang ini akan aku tuntaskan. Insya Allah malam ini juga!"

Bari menunjuk ke laptop hitam dengan banyak terbubuh cap-cap stiker yang tak jelas pula karena sudah kubas. Ia tampak yakin betul, seperti seorang prajuit Troya yang menuju medan pertempuran. Bara semangat bisa kulihat dari matanya. Sepertinya Bari akan lolos dari ancaman DO. Aku tersenyum, lalu berlalu mengelap-ngelap gelas dan memasukkan biji kopi ke dalam toples yang sudah kosong.

***

"Sudah tamat dia. Drop out!" kata Latif dengan agak nyaring dan tertawa.

"Hah? Jadi dia sudah di DO?"

"Bahkan lembaran skripsinya saja tak pernah ia serahkan. Dasar pecundang," kata Latif, yang kemudian mengikat rambut panjangnya yang lurus seperti iklan shampo Pantene, bercahaya.

Aku terdiam. Lalu menyuguhkan kopi tubruk Pengaron panas kepada Latif. Kupandangi lukisan kopi di dinding. 

Seingatku, mahasiswa yang dimaksud dosen nyentrik ini adalah Bari. Tidak salah lagi. Kata Anang, tiada lagi mahasiswa gondrong selain Bari di kampus Latif yang terancam DO. Hanya dia seorang!

"Mahasiswamu itu namanya Bari?

"Wohooo... Aku kira kau sudah benar-benar sakti sekarang. Dari mana kau tau?"

"Dia sering ke sini setiap Selasa, Kamis dan Sabtu."

"Wah wah begitu rupanya. Ya sudahlah mau gimana lagi, sudah DO dia itu. Sayang sekali. Aku rasa ia itu tak akan pernah sukses. Percuma orang seperti itu tak tau diri."

Aku tak meresponnya. Sambil menuang air ke dalam teko untuk dipanaskan, aku teringat lagi Bari waktu itu. Ia mengatakan akan menuntaskan skripsinya dalam semalam. Bukankah selama ini ia sudah mengerjakannya, bahkan saat di kedai ini. Ia berasyik masyuk dengan laptopnya. 

Aku duduk di dekat dinding, aku lap kaca jam analogku. 

***

"Assalammualaikum abangku. Seperti biasa, kopi hitam. Apa sajalah, terserah saja, buatkan yang panas, pake gula sedikit."

"Kabar baik apa ini? Berbahagia hari ini kau tampaknya," sahutku tersenyum.

"Ah, betul juga. Aku ingin menyerahkan ini kepadamu." Bari menyodorkan sebuah buku yang masih dibungkus plastik, masih baru sekali. Kulihat dari sampulnya, kubaca judul, bertuliskan Serial Kopi Prabayaksa, karya Bari Al Taluk Tirami diterbitkan oleh penerbit nasional pula.

"Masya Allah, sudah jadi penulis handal kau sekarang Bari, aku merasa terhormat kau menjadikan nama kedai ini menjadi judul bukumu. Luar biasa."

"Yaah begitulah abangku. Hahahah."

"Karya keberapakah yang akhirnya diterbitkan ini, Bari?

"Hmmm itu karyaku kedua, yang pertama sudah pernah ditolak dan tak pernah terbit."

"Lalu bagaimana skripsimu. Bukankah kau bilang akan menuntaskannya malam itu?" sanggahku, mengernyitkan dahi dan menunjuk dirinya sambil berkacak pinggang.

"Ya... ya.... yaaa.. aku sudah menebaknya sebelum ke sini, abang akan menanyakan itu. Selama ini, buku itulah yang aku kerjakan bang. Bukan skripsi. Malam itu, maksudku adalah menuntaskan bab terakhir dari naskah novel yang ada di tanganmu."

"Oh begitu."

"Nah sekarang mana kopiku bang, heheheh."

Aku terlupa dan malah asyik dengan obrolan. "Oh iya, sebentar."

Aku menggiling biji kopi, menyeduhnya dengan air panas. Aku terdiam memandang serbuk kopi yang sudah terpadu dengan panasnya air. 

"Siapa tau ia memang ditakdirkan menjadi penulis ketimbang seorang sarjana. Ah tak tau lah, hanya garis Yang Kuasa yang menentukannya," aku berbicara dengan diriku sendiri.

Sementara tempo hari lalu, aku masih ingat seorang dosen yang meremehkan mahasiswanya itu malah sudah dua belas kali novelnya ditolak penerbit nasional yang sama. 

Hidup memang tak bisa ditebak tepat. Bisa saja orang-orang yang direndahkan dan ditertawakan itu ternyata lebih baik, dalam kotak babak kehidupan yang lain.

Kusesap aroma kopi yang juga kuseduh untukku sendiri. Seperti sebuah perayaan, atas karya Bari yang sudah ia upayakan diantara tertawaan-tertawaan perendahan dan untuk nilai kehidupan yang aku temukan hari ini.

***

Oleh: Syam Indra Pratama
Edisi pertama dari serial Kopi Prabayaksa di Kampung Buku
terinspirasi dari serial televisi Midnight Diner yang tayang di Netflix.

Catatan:
1. Wadai = kue
2. Habang = merah
3. Batasmiyah = ritual pemberian nama anak.