MEJA sudah tertata. Air panas, alat seduh, teko kaca dan gelas telah disiapkan. Buku-buku kopi, biji kopi, dan perbincangan taut-bertaut berpendar pada kedai kopi di salah satu blok di Kampung Buku ini. Para tamu menyebutnya toko kopi Prabayaksa. Tempat dimana wanginya aroma kopi, lembaran-lembaran buku, dan pembicaraan-pembicaraan anak manusia saling bertemu.
***
Aku mulai memanaskan air di dalam teko sebelum tamu-tamu itu berdatangan. Hanya ada lima kursi di dalam kedai ini. Buku-buku bersusun di dindingnya. Lukisan yang dibuat dari bubuk kopi tertata pula di salah satu sisi. Biji-biji kopi lokal sudah disiapkan, tertutup rapat dalam toples kaca tertembus cahaya.
Hanya ada kopi lokal di sini. Tidak akan kau temukan kopi dari Ethiophia, Kolombia dan Kenya. Tak ada kotak pendingin udara yang meniup-niupkan hawa dingin, tak ada musik yang berdentum-dentum, tak ada jaringan internet gratis. Tempat ini murni kedai kopi, bukan kafe.
***
Kesibukan di toko kopi Prabayaksa sudah dimulai sejak pukul sembilan pagi hingga ketika, jarum pendek jam analog menunjuk ke angka enam. Saat itu kedai biasanya sudah tutup. Tapi tidak untuk Kampung Buku yang tetap buka hingga pukul sebelas malam dan bisa saja hingga selarut-larutnya.
Toko kopi Prabayaksa berada dalam kawasan Kampung Buku. Tentu saja, di malam hari engkau bisa mencari dan membeli buku di kampung kecil di dalam kota ini, meski kedaiku sudah tutup. Kampung Buku seperti semesta dari pergulatan kejenuhan ramainya kota seribu sungai dan penduduknya yang riuh.
***
Hari ini berbeda. Selain kopi, aku juga menyiapkan nasi kuning dengan kuah masak habang yang disimpan di dalam termos nasi. Dari sebahagian tamuku, seorang perempuan bernama Sri meminta agar sore nanti nasi kuning yang ia pesan itu dibagikan kepada tamu-tamu lain yang datang. Hari ini adalah hari ulang tahun anaknya yang ketujuh tahun. Wangi nasi kuning begitu harum saat masih panas, ditambah taburan daun seledri di atasnya. Aroma yang membangunkan kenangan-kenangan.
***
"Bagaimana nasi kuningku, apa sudah kau bawa?"
Aku mengangguk tersenyum, sambil menunjuk ke termos nasi ukuran sedang berwarna merah muda di belakang meja seduh.
"Buatkan aku dan Kinanti kopi satrup, seperti biasa, pakai es batu. Kali ini aku membawa satrup Batman, yang tahun lalu kau gunakan untuk kopi di toko ini. Dua hari lalu aku baru pulang liputan dari Kota Balangan," kata Sri bersemangat, sambil menyerahkan sebotol satrup (sirup) berwarna merah.
"Hanya kalian berdua tamu di kedai ini yang minta buatkan kopi hitam saring dicampur satrup, ada-ada saja. Tunggu, akan segera kubuatkan."
Sepintas aroma manis dan esen mawar sangat terasa ketika botol satrup yang disebut Sri sebagai satrup Batman itu kubuka. Sri memang selalu memesan es kopi dicampur satrup setiap kali ke kedai ini bersama anak perempuannya, Kinanti. Namun baru kali ini ia membawa satrup yang ia sebut sebagai satrup Batman itu.
***
"Kinanti, ini es kopi satrup kesukaanmu, kubuatkan spesial di hari ulang tahunmu. Semoga kau suka," ucapku kepada Kinanti yang sedari tadi asyik membaca majalah cerita bergambar kesukaannya.
"Hari ini biar aku yang traktir es kopi ini. Anggap saja ini hadiah ulang tahun untuk Kinanti." Aku mengarahkan pembicaraan kepada Sri. Perempuan yang bekerja sebagai pewarta di sebuah koran lokal di Banjarmasin.
"Oh begitu, baiklah, terima kasih. Lain kali akan kubawakan lebih banyak satrup untukmu," ujar Sri, sambil meminum es kopi satrup yang ada di tangannya. Wajahnya tampak lelah. Aku tau menjadi pewarta koran di zaman serba digital seperti sekarang memang melelahkan.
Tidak seperti media daring, pewarta koran harus lebih konservatif, detil, dan tajam dalam menulis berita. Jika tidak begitu, koran akan selalu basi, karena semua berita sudah ditayangkan oleh media daring secara gratis. Aku menebak, penghasilan Sri tidak lebih banyak dari standar gaji yang ditetapkan pemerintah. Beberapa diantara tamu di kedai ini adalah pewarta dan mereka sering membahas hal ini di kedai.
Sri lah yang menulis feature di koran mengenai toko kopi ini. Belakangan aku tau dari tamuku, seorang pegawai kantor pajak. Tamuku itu menceritakan, bahwa ia tau kedai ini dari koran yang dibacanya di kantor. Rupanya itu adalah tulisan Sri.
***
Tepat satu tahun yang lalu, adalah hari dimana Sri dan Kinanti datang untuk pertama kalinya ke kedai. Saat itu adalah hari ulang tahun Kinanti. Ia berteduh bersama Kinanti karena hujan yang sangat lebat. Aku mengajak mereka berdua masuk ke dalam kedai, karena bajunya mulai basah. Angin berembus menjatuhkan air hujan hingga ke pinggir luar kedai. Kulihat wajah Kinanti tampak murung.
"Maaf Kinanti, mamah tau, hari ini adalah ulang tahunmu. Maafkan mamah tidak bisa mengajakmu makan di kafe seperti yang mamah janjikan. Mamah minta maaf. Mamah tak punya cukup uang kali ini," tutur Sri kepada Kinanti sore itu.
Wajah Kinanti tertunduk, rambutnya masih basah terkena hujan. Ia memandangi ibunya dan mengangguk. Tak sepatah katapun ia katakan. Ia tampak pasrah dan kecewa.
Aku terdiam mendengarkan sayup-sayup pembicaraan mereka, meski suara hujan masih terlalu nyaring. Aku teringat masih ada dua potong wadai Lam manis, buah tangan tamu yang datang dari Barabai. Wadai itu sangat manis, legit dan wangi. Aku letakkan ke dalam piring keramik putih beserta satu sendok kecil dan aku serahkan kepada Kinanti. "Selamat ulang tahun Kinanti, ini hadiah ulang tahun untukmu, rasa kuenya tidak kalah dengan kue di kafe."
Aku suguhkan wadai Lam itu sambil tersenyum. Wajah Kinanti berubah, ia memandangku, lalu mengangguk. Sementara kulihat Sri hanya terdiam kebingungan.
"Oh iya apa kalian berdua mau minum kopi? Tidak usah dibayar, anggap saja sedang promo karena kalian baru pertama ke toko kopi Prabayaksa ini."
"Terima kasih, tapi anakku tak suka kopi."
"Asalkan diberi es batu dan manis aku suka," ucap Kinanti secara spontan sambil masih mengunyah wadai Lam dengan bersemangat. Kini warna wajahnya terlihat lebih cerah.
"Ah baiklah, tapi aku kehabisan gula, hanya ada satrup dari Batumandi, satrup batman untuk pemanisnya. Apa kau mau?"
"Aku suka satrup. Aku biasa meminumnya di warung dekat sekolah," kata Kinanti, terburu-buru.
Sejak saat itulah, setiap kali datang ke kedai, Kinanti dan ibunya selalu memesan es kopi satrup. Tidak ada tamu lain yang memesan menu ini, hanya mereka berdua. Lagi pula aku belum berniat memasang menu es kopi satrup di dalam papan menu. Aku belum terlalu yakin.
***
Sore ini kedai agak ramai, selain Sri dan Kinanti, ada pula Latif sang dosen, Bari si penulis yang di DO kampusnya, dan Anang, lelaki yang ditolak cintanya oleh sembilan perempuan.
Piring-piring mulai mengedar. Kami lahap memakan nasi kuning dengan lauk intalu itik dan iwak haruan kuah masak habang.
Kulihat wajah Kinanti yang tampak bahagia. Tahun ini tak hanya satrup manis, sebagai hadiah untuknya. Namun juga nasi kuning dan doa-doa dari tamu yang lain. Meski di sini tak seperti kafe, aku senang melihat Kinanti menemukan kebahagiaan di hari lahirnya. Ia merayakannya tahun ini, di Prabayaksa.
Dari tamu-tamu kedai yang berprofesi sebagai pewarta daring, aku belakangan jadi tau bahwa koran tempat Sri bekerja akan ditutup karena oplah yang terus turun dihantam pertumbuhan media daring. Hidup memang tak selalu seindah happy ending dalam novel-novel dan film fiksi. Terkadang kita berhadapan dengan hal-hal yang kita benci.
Teringat aku tentang es kopi satrup tahun lalu. (*)
Oleh: Syam Indra Pratama
Edisi ketiga dari serial Kopi Prabayaksa di Kampung Buku
terinspirasi dari serial televisi Midnight Diner yang tayang di Netflix.
___________________________________
Catatan:
1. Wadai: kue
2. Habang: merah
3. Intalu: telur
4. Wadai Lam: kue khas Banjar
5. Batumandi: Sebuah daerah di Kab. Balangan
6. Satrup: Sirup mawar dalam bahasa Banjar

