#2 Serial Kopi Prabayaksa di Kampung Buku: Sembilan Perempuan

MEJA sudah tertata. Air panas, alat seduh, teko kaca dan gelas telah disiapkan. Buku-buku kopi, biji kopi, dan perbincangan taut-bertaut berpendar pada kedai kopi di salah satu blok di Kampung Buku ini. Para tamu menyebutnya toko kopi Prabayaksa. Tempat dimana wanginya aroma kopi, lembaran-lembaran buku, dan pembicaraan-pembicaraan anak manusia saling bertemu. 

***
Aku mulai memanaskan air di dalam teko sebelum tamu-tamu itu berdatangan. Hanya ada lima kursi di dalam kedai ini. Buku-buku bersusun di dindingnya. Lukisan yang dibuat dari bubuk kopi tertata pula di salah satu sisi. Biji-biji kopi lokal sudah disiapkan, tertutup rapat dalam toples kaca tertembus cahaya. 

Hanya ada kopi lokal di sini. Tidak akan kau temukan kopi dari Ethiophia, Kolombia dan Kenya. Tak ada kotak pendingin udara yang meniup-niupkan hawa dingin, tak ada musik yang berdentum-dentum, tak ada jaringan internet gratis. Tempat ini murni kedai kopi, bukan kafe.

***

Anang mulai melinting tembakau yang disimpannya dalam kotak bekas kaset tape jadul. Ia membawa beberapa kitab jika bertamu ke toko kopi Prabayaksa. Maklum, Anang adalah mahasiswa dari salah satu universitas Islam negeri di Banjarmasin, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. 

Ia lebih sering bercerita tentang hadits satu ke hadits lainnya. Meski melompat-lompat dari asbabul wurud satu ke asbabul wurud yang lainnya, Anang selalu berapi-api jika sudah berbicara hadits. Padahal ia bisa saja membahas tentang perbandingan agama sesuai kelimuannya.

Belakangan dari ceritanya sendiri, aku mengetahui, anak muda ini sudah sembilan kali ditolak oleh perempuan berbeda yang ia sukai. Usai penolakan kesembilan, ia terpukul, karena gadis kesembilan yang menolaknya ternyata lebih memilih teman karibnya seasrama. Sejak saat itu, hubungan dengan teman karibnya, serantang seruntung, sekayuh seirama menjadi retak. Anang memilih jalan uzlah. Mengasingkan diri dari asrama dan memilih menjadi marbot salah satu langgar. 

Dalam uzlahnya selama dua tahun belakangan, ia seperti menemukan pencerahan, dengan menekuri kitab-kitab dari ulama ternama. Sekarang ia lebih terlihat seperti seorang sufi ketimbang anak muda di zaman tebar pesona.

***

"Kopi dari Julak Saberan, Desa Lok Tunggul, Pengaron ini rasanya lebih ringan, disangrai tidak sampai gelap. Kopinya baru minggu lalu kusangrai sendiri, kau mau mencoba?"

"Aku sedikit sensitif dengan rasa pait, apa yang ini tidak terlalu pait?"

"Akan kucoba menyeduhnya di suhu 80 derajat dengan gilingan kasar, biasanya akan lebih ringan dan sedap," jelasku kepada Anang yang matanya memerah, berulangkali menguap karena begadang semalam suntuk, menyelesaikan tugas kuliah. 

"Ah bisa-bisa. Siapa tau kantukku minggat bang," ujar Anang sambil menggeliatkan badan pagi itu.

"Akan kubuatkan, kali ini gratis, karena kau yang pertama kali mencicip kopi ini. Anggap saja aku berulang tahun hari ini."

Aku tersenyum, kemudian berbalik memanaskan air ke dalam teko. Kuambil alat penyaring kopi dan kertas saring berbentuk segitiga. Kubasahi kertas itu di dalam alat seduh, agar aroma kertasnya hilang. Setelah air mendidih, barulah aku menggiling biji kopi robusta dari Lok Tunggul dengan proses panen natural itu. Kuseduh dan kusuguhkan kepada tamu yang satu ini. Anak muda yang cintanya ditolak sembilan kali.

***

"Assalamualaikum abangku..."

Aku mengenal suara ini. "Ayo masuk Bari, aku ada kopi baru untukmu, kopi dari Desa Lok Tunggul, Pengaron, proses natural, kau harus coba."

Bari Al Taluktirami datang pagi itu dengan membawa tiga bungkus nasi kuning. Ia berbaik hati memberikan kepadaku dan Anang nasi kuning dengan lauk iwak haruan masak habang. Setelah selesai makan baru kami tahu, ternyata nasi kuning itu ia dapatkan dari syukuran tetangganya yang baru selesai membangun rumah.

"Anang, jangan terlalu serius kau dengan kitab-kitab itu. Berhiburlah sedikit, menonton film, mendengarkan musik atau bermain game lah."

Anang tak menggubris, sambil melahap nasi kuning, ia tetap saja membaca kitab yang tebalnya hampir setinggi tiga papan kayu ulin ditumpuk rata.

"Mumpung belum banyak tamu yang datang ke kedai ini, aku masih penasaran dengan pengembaraan cintamu hingga ditolak sembilan kali. Bukan main betul itu Anang. Apa sebenarnya yang kau inginkan, sampai tak menyerah sebanyak itu?" cecar Bari setengah mendesak memandangi Anang.

Anang tetiba menghentikan kunyahannya. Menyeruput kopi saring dan mengembuskan napas. Dibakarnya rokok linting. Bara apinya memerah ketika ia mengisapnya cukup dalam. "Aku bukan lelaki sembarangan Bari. Ketika aku mengatakan perasaan kepada perempuan, aku langsung mengajaknya menikah, bukan pacaran. Itulah kenapa sembilan perempuan itu menolak. Mereka tidak siap, karena merasa masih sangat muda. Sementara aku, terobsesi menikah muda," tuturnya. Asap rokok mengepul.

"Aku masih berencana melakukan untuk yang kesepuluh, namun aku masih perlu waktu meyakinkan diri. Sembilan kali ditolak, bukan hal mudah. Aku teramat yakin, lelaki sekuat apapun akan merasa goyah dengan penolakan sebanyak itu," tambahnya. Kali ini nada bicaranya berat dan serius.

***

Aku tersenyum mendengar kata-kata Anang. Aku salah sangka selama ini. Aku mengira ia  seperti anak muda kebanyakan. Pulang dan pergi dalam percintaan hanya untuk bersenang-senang. Ternyata urusan percintaan bagi Anang adalah persoalan yang tidak mudah dan sakral. "Jangan menilai orang dari tampilannya," kataku bergumam sendiri.

"Apa yang kau katakan tadi bang?" Anang memandang ke arahku.

Aku pun mengarahkan pandangan kepadanya. "Ah bukan apa-apa, lupakan saja," balasku santai, sambil tersenyum dan mengelap-ngelap gelas dan mesin giling yang sedikit berdebu.

***

Sore itu, hari tampak muram dan berangin. Suasana kedai juga masih lengang. Hanya ada aku dan Anang di dalam. Dari jauh aku lihat seorang lelaki berumur sekitar 40 tahunan berjalan menuju kedai. Ia menggunakan setelan kemeja Sasirangan rapi yang dimasukkan ke dalam celana jeans dan berikat pinggang kulit berwarna coklat. Langkahnya mantap dan tegap.

"Selamat sore, apa benar di sini ada kopi lokal dari Kalsel?"

"Ah benar sekali. Mari masuk," ujarku sembari menyiapkan kursi untuk tamuku itu. Aroma parfum maskulin menusuk hidung, mengalahkan aroma kopi yang baru saja digiling.

"Di sini ada kopi robusta dan liberika, semuanya dari Banua Kalimantan Selatan," kataku dengan mantap, tersenyum dan berkacak pinggang.

"Nah yang liberika itu saja, aku membacanya di koran, kalau di kedai ini menjual kopi khas Kalsel, liberika beraroma nangka itu. Buatkanlah untukku."

"Mau pakai gula atau susu kental manis?"

"Tidak usah, lelaki sejati tak menambahkan pemanis dan susu ke dalam kopinya," balasnya sambil membuka kaca mata hitam dan meletakkannya di atas rambut.

Kali ini aku sependapat mengenai pemanis dan susu itu. Tidak lama. Aku suguhkan kepadanya kopi saring tanpa gula. Kopi liberika dari Kabupaten Tanah Laut. "Yang ini berasal dari Desa Kait-kait. Kopinya sudah manis meski tanpa gula."

"Waaaah nikmat sekali ini aromanya. Mari aku coba seruput."

Lelaki itu menyeruput kopi dari cangkirnya. Terlihat sangat menikmati. Kemudian ia memandangi lukisan rumah di dinding kedai. 

"Melihat lukisan rumah itu, aku teringat dengan perempuan yang aku jatuh hati padanya. Sejak pertemuan pertama kali di rumahnya waktu itu."

Spontan aku dan Anang menoleh pandang kepadanya. Ia kemudian memperkenalkan diri. 

"Aku lupa memperkenalkan diri. Aku Leonard, asli Tanah Karo, Sumatera Utara, sekarang baru pindah tugas kerja ke Banjarmasin sebagai pegawai kantor pajak."

"Selamat datang di Banjarmasin Leonard, senang kau mau mampir ke kedaiku. Ngomong-ngomong apa hubungannya lukisan rumah dan perempuan yang kau sebut tadi?" jawabku sedikit penasaran. 

"Aku sudah 20 kali mengatakan perasaanku kepadanya dan mengajaknya menikah. Aku kira menikahinya dan melangsungkan upacara peneguhan nikah dipimpin oleh pendeta di gereja adalah impianku yang tak pernah teramini selama 10 tahun ini. Ia selalu menolakku. Tanpa alasan yang jelas. Padahal ia sendiri belum juga menikah," terangnya. 

Segelas kopi langsung dihabiskannya, seolah memadamkan rasa cintanya yang tiada tersampai selama ini.

Anang memandang lekat-lekat wajah Leonard. Ia tak menyangka ada lelaki yang usianya lebih tua 20 tahun darinya. Namun masih memiliki semangat meski sudah ditolak 20 kali oleh perempuan yang sama. 

Ya, perempuan yang sama. Lelaki macam apa yang punya keteguhan macam itu dan memendamnya selama bertahun-tahun lamanya. Kesabaran yang tak terkirakan sepertinya.

***

Sore itu Anang termenung di bangku luar kedai. Ia terkagum-kagum dengan Leonard. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Kali ini ia termenung cukup lama di depan kedai, Sambil melihat langit-langit. "Apakah ia akan kembali menyampaikan perasaannya dan mengajak gadis itu menikah untuk yang ke-21 kali? Aku rasa ia akan menyerah," ucap Anang di dalam hati.

***

Dua bulan berlalu dari kedatangan Leonard ke toko kopi ini pertama kali. Ia datang lagi. Kali ini tak sendiri. Ia bersama seorang perempuan. Kali ini di dalam kedai ada aku, Anang, Bari dan Latif.

"Selamat siang. Liberika masih ada kan?" sapa Leonard masuk ke dalam toko.

"Untung kau datang lebih dulu. Sisa sedikit lagi biji kopi liberika itu akan habis," kataku.

Aku melihat Anang memandangi Leonard dan perempuan sebaya yang dibawanya ke ke toko dengan seksama. Seperti detektif swasta yang memburu data untuk kliennya. Aku tahu ia sambil pura-pura membaca kitabnya itu.

"Perkenalkan, ini istriku, kami baru saja menikah pekan lalu di Sumatera Utara. Kami memutuskan untuk bersama-sama menetap di kota ini." Leonard tampak malu-malu mengatakannya.

Tiba-tiba saja Anang mendekatkan kursinya. Dengan nekat ia bertanya, "Apakah kau akhirnya menyatakan perasaanmu dan mengajaknya menikah? Apakah itu usahamu yang keduapuluh satu kali?"

Leonard terkejut mendapat pertanyaan lancang dari anak muda yang belum tamat kuliah. Aku, Bari, dan Latif memandang Anang, setengah melotot. Bercampur, antara terkejut dan sedikit kesal.

Namun tak diduga, perempuan yang dibawa Leonard kemudian menjawab, "Ia mengatakan perasaannya kepadaku untuk yang ke duapuluhsatu kali. Sebenarnya aku memiliki trauma dan luka masa lalu kepada lelaki. Hampir saja kuputuskan tak akan pernah menikah  Pada usahanya yang terakhir, entah mengapa aku luluh pada kesabarannya. Aku rasa tak ada alasan lagi bagiku menolak segala upaya dan kesabarannya itu. Kesabaran Leo seolah meyakinkanku mengobati trauma dan ia menerimaku apa adanya."

Anang terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. Tanpa berkata-kata, ia keluar dari kedai. Ia meninggalkan kedai dengan langkah bergegas. Apa yang ia pikirkan, kami pun tak mengetahuinya.

***

Kedai sudah sepi. Sore menuju malam. Aku bersiap menutup toko. Kubereskan gelas-gelas di meja. Rupanya ada yang tertinggal. Kulihat kitab hadits milik Anang masih terbuka. Kulihat kitab itu dan tertuju pada tulisan yang diberi stabilo hijau. "Ketahuilah bahwasanya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan”.  (*)

Oleh: Syam Indra Pratama
Edisi kedua dari serial Kopi Prabayaksa di Kampung Buku
terinspirasi dari serial televisi Midnight Diner yang tayang di Netflix.

Catatan:
1 . Sasirangan: kain khas Banjar.
2 . Asbabun wurud: sebab-sebab munculnya hadits. 
3. Petikan hadits Rasululullah saw. riwayat Tirmidzi dalam Kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An Nawawi.

Ilustrasi lukisan: Still Life – French Novels ,  1888, Vincent Van Gogh (1853-1890), doc. htanzil.