Musa Bastara dan Takara Belati, Golongan Kawula Muda Banua yang Sastrawi

"Kami baru saja merilis single terbaru kami, yang berjudul Haliling," ujar Takara Belati alias Rizky A Setiawan berkelakar di toko kopi Prabayaksa. Maklum saja anak muda yang masuk golongan kawula muda sastrawi ini sedang menggarap band duo bersama sahabatnya, Musa Bastara alias Muhammad Saipullah Syah. Belakangan ia bercerita, bandnya itu mereka tasmiyahi dengan nama de'duck.


Sebelum membahas band mereka, mari kita bincangkan dulu perihal Musa. Ia adalah anak muda yang dulunya berambut gondrong. Setelah malang melintang menjadi pewarta, rupanya ia memilih memangkas rambutnya itu. 

Ketika datang ke toko, Musa bercerita, ia suka dengan menu Marlimus yang kami sajikan. Ia bahkan lebih menyukai Marlimus ketimbang sajian kopi yang ada di toko kami. Ini ada kaitannya dengan idealisme Musa pada kopi sachet. Menurut Musa, kopi yang lemanthel (legit manis dan kentel) adalah kopi sachet. Namun meski begitu, ia juga tak menolak jika ada kopi hitam enak selain kopi sachet. Benar-benar berada pada posisi moderat, di tengah-tengah.

Ia kemudian bercerita mengenai pengalamannya menjadi wartawan. Ternyata, tantangan terbesar bagi Musa adalah menaklukkan rasa pemalunya, rasa grogi dan rasa tak percaya diri ketika harus berhadapan dengan orang-orang baru. "Dari menjadi wartawan aku belajar, menjadi lebih percaya diri bertemu dengan orang-orang baru," tutur Musa.

Di antara wartawan-wartawan muda lainnya, tulisan Musa boleh dibilang bernilai "mahal". Itu barangkali karena tulisannya yang lebih "nyastra" tidak kaku ala-ala hardnews yang membosankan itu. Membuat satu tulisan saja ia perlu waktu yang tidak sedikit, untuk menjaga kualitas. 

Anak muda asli dari Gudang Hirang, Kabupaten Banjar ini juga penyuka band Nirvana. Jalan "ninja" menjadi seorang wartawan membuatnya lebih berkembang dan membuka pertemanan-pertemanan, serta pengalaman baru. 

Takara Belati

Rizky A Setiawan alias Takara Belati sebenarnya adalah perupa, pelukis yang cukup produktif di Kalsel. Di usianya yang masih muda, satu lukisan hasil karyanya sudah dibeli oleh penikmat seni seharga jutaan rupiah. Di tengah anak-anak muda lain masih sibuk dengan berbagai game di gawainya, Iki mengambil jalan berbeda. Ia memilih melukis dan sesekali menulis fiksi dan esai.

Terakhir, ia menjadi kurator dalam pameran seni rupa drawing bertema Puzzle, Drawing on Kambuk. Bersama Musa, ia membangun band de'duck yang jika di alih artikan ke dalam bahasa Banjar menjadi dadak. Itu adalah semacam makanan ternak seperti itik. "Seperti itulah, selain single Haliling, juga ada Gondang yang kami garap," katanya.

Baik Musa maupun Takara, dua-duanya aktif di Dewan Kesenian Kota Banjarmasin. Mereka adalah golongan kawula muda inspiratif yang bisa menjadi inspirasi berkarya, anak-anak muda Banua.

____________

foto: dok. Prabayaksa dan Takara Belati